Dunia pendidikan tingkat kanak-kanak adalah sebuah dunia yang tidak terlepas dari bermain. Perlu diketahui bahwa kegiatan bermain tidak selalu membutuhkan “mainan”. Namun demikian, tidak semua mainan yang dimainkan oleh anak-anak pada saat ini memiliki unsur pendidikan atau edukasi, dimana permainan itu dirancang secara khusus untuk kepentingan pendidikan dan sumber belajar bagi anak. Salah satu sarana yang menjadi sumber belajar penting bagi anak adalah APE. APE merupakan alat-alat permainan yang dirancang dan dibuat untuk menjadi sumber belajar anak-anak usia dini agar mendapatkan pengalaman belajar. Pengalaman ini akan berguna untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan anak yang meliputi aspek fisik/motorik, emosi, sosial, bahasa, kognitif dan moral.
APE kini banyak tersedia di pasaran, mulai dari toko hingga di dalam mall dengan harga yang bervariasi. Berbagai macam varian APE dijual secara bebas. Namun, kendala harga yang cukup tinggi membuat ketersediaan APE menjadi hambatan dalam proses belajar mengajar. Banyak PAUD atau TK tidak secara berkala menginventarisasi APE yang ada, sehingga kondisi APE cukup tidak terawat. Anggaran yang disediakan pun terbatas untuk pengadaan APE, sehingga proses belajar mengajar dilakukan dengan sarana dan prasarana yang terbatas. Namun, di lain sisi, bagi PAUD atau TK yang memiliki anggaran cukup untuk membelanjakan APE, hal ini menjadi halangan dalam menumbuh kembangkan kreatifitas para pendidik anak usia dini, untuk membuat suatu APE. Karena pendidik anak usia dini cukup puas dan bergantung pada ketersediaan APE di pasaran. Sehingga lambat laun, hal ini tentu saja akan menumbuhkan budaya konsumtif dan akan mematikan daya kreativitas dan inovasi para pendidik dalam menyelenggarakan proses belajar yang berkualitas bagi anak.